Beranda » Agama » Umat Kristen di Era Artificial Intelligence: Bagaimana Tetap Menjadi “Manusia” di Hadapan Allah?
click image to preview activate zoom

Umat Kristen di Era Artificial Intelligence: Bagaimana Tetap Menjadi “Manusia” di Hadapan Allah?

Rp 354.000
Stok Pre Order
Kategori Agama, Teknologi
Tentukan pilihan yang tersedia!
PRE ORDER
Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut mengenai pemesanan produk ini.
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Umat Kristen di Era Artificial Intelligence: Bagaimana Tetap Menjadi “Manusia” di Hadapan Allah?

Judul      : Umat Kristen di Era Artificial Intelligence: Bagaimana Tetap Menjadi “Manusia” di Hadapan Allah?

Penulis   : Ev. Stefanus Adi Wijaya

Ukuran   : 15 X 23CM

Tebal      :  424 HAL

Cover     : Soft Cover

SINOPSIS

Kemajuan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) hingga saat ini telah mengubah tatanan sosial, etika, dan spiritualitas manusia secara fundamental, juga memberi dampak pada orang percaya dan umat ber-iman, dimana upaya mengeksplorasi tantangan teologis dan eksistensial yang dihadapi oleh umat Kristen ketika batas antara kapabilitas mesin dan kemanusiaan semakin kabur. Ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan menawarkan bagaimana kerja teologis kritis untuk mengintegrasikan AI ke dalam praktik iman tanpa mengikis esensi kemanusiaan. Melalui refleksi alkitabiah, sangatlah penting untuk merumuskan “humanisme Kristen digital” yang berpusat pada Kristus, di mana teknologi digunakan sebagai alat pelayanan dan kasih, bukan sebagai pengganti kehadiran Ilahi. Hasil akhirnya adalah panduan praktis bagi gereja dan individu untuk tetap menjadi manusia yang utuh, bermartabat, dan bertanggung jawab di hadapan Allah di tengah dominasi digital. Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang begitu pesat telah membawa umat manusia pada persimpangan jalan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan mengacu pada konsep teologis imago Dei—bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1: 26–27)—menegaskan bahwa martabat kemanusiaan tidak terletak pada kecerdasan yang dapat diukur, kemampuan komputasi, atau efisiensi fungsional. Manusia adalah insan pribadi nyata yang dipanggil untuk hidup dalam relasi dengan Allah dan sesama, di dalam tubuh dan dalam sejarah nyata. Di sisi lain, AI juga membawa risiko dehumanisasi, penyembahan berhala teknologi, dan reduksi kehidupan manusia menjadi sekadar data dan informasi. Ingat, perlu untuk bersikap bijaksana: tidak menolak teknologi secara membabi buta, tetapi juga tidak menerimanya tanpa kritik. Karena pada hakikatnya, menjadi manusia di hadapan Allah bukanlah soal apa yang dapat kita hasilkan atau seberapa cerdas kita berpikir, melainkan siapa kita di hadapan Allah.

Umat Kristen di Era Artificial Intelligence: Bagaimana Tetap Menjadi “Manusia” di Hadapan Allah?

Berat 300 gram
Kondisi Baru
Dilihat 2 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait

Social Media & Marketplace
Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Siti
● online
Siti
● online
Halo, perkenalkan saya Siti
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: